Handoyo Suite Class: Solusi Rebahan Sepanjang Perjalanan

Memangnya kalau tidak tidur, mau ngapain lagi sepanjang perjalanan malam?

Jelajah Jakarta dalam Genggaman

Saya sedikit santai melangkah ke Posko Kesehatan Terminal Pulo Gebang. Rupanya saya datang jauh lebih awal dari jadwal seharusnya. Semula pukul 3 sore saya keluar dari Perpusnas, bergegas menuju halte sederhana di depan gedung kementerian sebelah. Menurut aplikasi Moovit, waktu perjalanan saya dari Perpusnas menuju Terminal Terpadu Pulo Gebang bisa memakan waktu 1 jam 28 menit. Aplikasi sederhana ini telah memberikan beberapa opsi multi moda transportasi. Lumayan, tidak perlu tanya sana-sini lagi untuk bisa tiba di tujuan.

Menanti bus Trans Jakarta selama 10 menit, saya putuskan untuk naik bajaj saja. Walau kudu merogoh kocek lebih dalam dari ongkos ojol, saya rasa harganya sepadan dengan barang bawaan saya. "Ini beh," ucap saya meniru logat Betawi sembari menyodorkan selembar rupiah hijau. Bajaj pun segera membelah jalanan arteri ibukota.

Gedung-gedung perkantoran anggun di kiri-kanan Jln. Kebon Sirih tampak lengang. Meski ini hari Senin, euforia tahun baru masih cukup terasa. Mungkin banyak karyawan memilih ambil cuti ketimbang memulai kerja terlalu dini di awal tahun.

Bus Handoyo Suite Class dengan kode SC 1

Bus berhenti di beberapa agen sepanjang DKI Jakarta dan Bekasi

Di sudut tikungan, bajaj biru ini berbelok tajam menuju Stasiun Gondangdia. Jaraknya memang sangat dekat, tapi tarifnya lumayan juga untuk perjalanan 5 menit saja.

Seperti biasa, polsuska mewanti-wanti para calon penumpang kereta komuter untuk memindai kode QR terlebih dahulu. Di Jakarta Raya, penggunaan Peduli Lindungi tampaknya cukup efektif, ya meski hanya di fasilitas publik dan perkantoran saja. Tiap tempat, dimana ada satpam, di situ ada kode QR. Dari MRT, stasiun, mal, hingga halte TiJe. Semua orang kompak reflek membuka aplikasi begitu mendekati gerbang check-in. Maklum saja, adanya temuan varian omicron yang sudah dulu merebak di banyak negara, membuat kita kembali pada posisi siaga. Metode tracing dan testing harus jadi mandatory lagi. Bagi saya yang sudah divaksin kali kedua, aturan ini tidak masalah. Konon buat yang belum divaksin kedua, check-in untuk mengakses fasilitas publik tidak dapat dilakukan.

Bus trayek 11 dengan terminus di Pulo Gebang

Pos pengecekan boarding

Lantai teratas Terminal Terpadu Pulo Gebang dengan keberangkatan ke banyak tujuan

Kereta tujuan Cikarang tiba, saya bergegas masuk. Sepuluh detik kemudian, pintu kereta menutup. Menurut aplikasi, saya harus turun di Stasiun Buaran. Dari stasiun ini, saya hanya perlu jalan kaki ke halte TiJe Raden Inten, lalu naik TiJe koridor 11 yang akan berakhir di Terminal Pulo Gebang.

Perjalanan saya dari Perpusnas hingga Terminal Pulo Gebang terasa begitu mulus. Tidak ada lagi rasa khawatir kehabisan transportasi umum atau kesasar karena tidak tahu jalan. Tidak ada lagi rasa was-was ketika salah naik angkutan. Semua itu teratasi hanya dengan satu aplikasi: Moovit. Disarankan buat penjelajah sejati buat unduh ya. 😉

***

Pandemi Memukul Industri Jasa Transportasi

Tiba di Terminal Pulo Gebang, terminal terpadu dan terbesar di Asia Tenggara ini rupanya sangat sepi dibanding sebelum pandemi. Saya terakhir kali kemari pada Desember 2019 lalu, ketika Greenpeace mengadakan acara di Bogor. Waktu itu terminal terlampau sangat ramai jelang liburan akhir tahun. Saya pun hampir ketinggalan bus Sinar Jaya karena tidak tahu kalau terminal ini punya prosedur check-in sebelum berangkat. Tahulah saya adalah warga daerah yang terminal kotanya saja masih dikelola Pemda setempat: sangat kumuh dan tidak layak. 😅

Tes antigen sebagai syarat utama perjalanan

Melewati pos pengecekan

Dari pemberhentian TiJe Pulo Gebang, saya bergegas ke lantai 2. Di sini, saya segera menghampiri agen bus Handoyo untuk melapor kalau saya tiba di tujuan.

"Maaf mas, sudah ambil tes antigen belum?" tanya ibu-ibu agen. Rupanya karena momen libur Natal dan tahun baru, terminal bus kelas A di seluruh Indonesia diperketat dengan tes Covid-19. Hasil tes ini berlaku selama 24 jam setelah tes dilakukan sebagai syarat surat jalan. Okelah, semoga saja hasil saya negatif meski tahu Covid-19 varian Omicron sudah masuk Indonesia belakangan ini. Di Pulo Gebang, tes kesehatan dilayani di lantai tiga. 

Kursi supir dan kondektur bus kelas Suite Class

Dengan susunan atas bawah, total tersedia 13 kursi dalam sekali perjalanan
Fasilitas yang didapat setiap penumpang, reclining seat, bantal, selimut, snack, dan makan malam

Karena bus tidur, meski Suite Class tidak disediakan fitur hiburan
Sepatu para penumpang dibungkus dalam plastik untuk menjaga kebersihan kabin

Di lantai 3, ruang tunggu pemeriksaan terlampau sangat sepi. Tidak ada antrean pemeriksaan, saya langsung datang ke konter yang dijaga petugas Dishub. Petugas mengecek tiket penumpang dengan KTP, menulis nama saya pada secarik kertas sebagai syarat boarding pass. Saya berlalu ke meja pemeriksaan. Petugas tes sudah siap dengan alat tes antigen yang saya beli di agen.

“Perjalanan ke mane bang?” tanya mbak-mbak dengan logat Betawi kental, mungkin orang Bekasi.

“Balik kampung di Magelang,” jawab saya bergidik melihat alat swab yang panjangnya hampir setengah jengkal.

“Balik liburan apa kerja nih?”

“Kerja tapi ambil laptop doang kok, di Palmerah hehe,” sepertinya petugas tahu kalau saya merasa sedikit ngeri.

“Tarik nafas ye bang, gausah deg-degan,” tongkat panjang itu pun masuk ke hidung saya, kiri dan kanan. Rasanya ingin bersin. Mungkin ada upil nyangkut kali di alatnya.

“Tunggu hasilnya 5 menit lagi ye bang. Dah,” saya mengusap hidung. Rasanya besok-besok menyesal naik angkutan umum kalau harus swab bolak-balik. Hidung saya yang mancung bisa makin melar kayak bekantan.

***

Saya mengedarkan pandangan ke penjuru terminal. Meski saya sudah hilir mudik menunjukkan tiket di tangan, para supir bus tetap menanyai kemana jurusan saya, dan mau naik bus apa, “Sudah punya tiket pak, udah ada tiket buk.” Tujuan saya hanya beli air buat stok dalam perjalanan.

“Berape bang aernya? Gocengan?” 

Saya jadi prihatin, memang pandemi Covid-19 berdampak besar pada kehidupan para kru dan orang-orang yang terkait dengan layanan bus. Ketika PSBB diterapkan pertama kali pada 2020 lalu, semua angkutan umum termasuk bus diwajibkan untuk menerapkan physical distancing yang berimbas pada pembatasan penumpang. Alhasil, bus dengan kapasitas 36 kursi pun hanya terisi 18 saja. Akibatnya, harga tiket yang diupayakan normal tidak menutup ongkos biasa layanan. Kondisi ini berlangsung hampir 2 tahun.

“Tapi mending sih bang ketimbang nggak ada trayek yang jalan kayak dulu awal covid. Kan kita butuh duit buat ngasih makan anak istri yak,” obrol saya dengan supir bus tujuan Solo yang sedang ngerumpi di kios lantai satu.

Selain supir dan kru bus, tentu saja para agen pihak ketiga, rumah makan, penyewa kios di terminal, hingga jasa binatu terkait juga terkena imbasnya. Maka benar, walau pandemi covid-19 tidak membuat semua orang sakit, namun dampak ekonominya sudah lebih dulu terasa. Sektor transportasi menjadi yang paling terpukul.

***

Perjalanan Kilat, Tidur Lelap

Secangkir kopi hitam suguhan empunya warung jadi penutup perbincangan kami sore itu. Waktu masih ada 20 menit, saya bergegas menuju ruang pemeriksaan untuk mendapat boarding pass. Selembar boarding pass dengan kode QR saya dapatkan. Petugas memindai kode, gerbang terbuka. Saya bergegas menuju anjungan nomor 5 di lantai atas karena bus sudah siaga. Di ruang tunggu, suasana sangat sepi. Hanya ada 4 bus saja yang siaga menanti penumpang.

Rebahan sepanjang perjalanan, sepertinya ke depannya saya akan terus menaiki bus kelas ini

Sayangnya tidak ada colokan di Handoyo ini

Sekarang saya paham kenapa bagi banyak orang, kota-kota di Jawa Tengah itu menyenangkan

Sebelum masuk ke kabin bus, saya diminta mencopot sepatu dan memasukkanya pada kantong kresek. Kursi saya di nomor 3B, atas. Untuk bisa naik ke kursi atas, ada pegangan dan pijakan kaki untuk naik. Tersedia selimut dan bantal kecil. Kursi pun masih bisa diatur kemiringannya (reclining seat). Di sisi jendela, terdapat tempat untuk menaruh botol. Sayangnya, pandangan tempat saya rupanya terhalang bingkai jendela dan stiker bus. Hadeh.

Kernet bus mengecek daftar penumpang yang naik dari Pulo Gebang. "Turun dimana mas?" tanyanya sembari mengoper snek berisi roti dan air minum. Karena ini adalah bus lokal Magelang, tentu para kru tidak asing dengan istilah, "Ting buk panjang mawon pak (Di jembatan panjang saja pak)!"

Bus Handoyo dengan seri SC1 melayani trayek Jakarta - Klaten

Lima belas menit jelang pukul 5 sore, bus sudah bergerak menuju agen Handoyo di Kota Bekasi. Saya yang sudah lelah menjelajah Jakarta dengan jalan kaki hanya memilih rebahan, berselimut di bawah guyuran angin AC, menutup telinga dengan earplug dan menarik beanie Eiger saya hingga menutup kedua mata.

Pukul 20:00

"Tangi le, madhang sing wareg (Bangun nak, makan yang kenyang)," kernet membangunkan saya yang sama sekali tidak menyangka sudah tiba di Indramayu. Di rumah makan ini, saya menukarkan tiket fisik dari agen Pulo Gebang, disobek dengan seporsi makan prasmanan. Untuk makanan bus, Suite Class relatif lebih 'wah' ketimbang kelas di bawahnya. Lumayan, jadi lain kali enggak perlu bawa bekal deh.

Sepanjang perjalanan lampu dipadamkan, saya pun bisa tidur lelap dari Bekasi ke Indramayu, dan Indramayu sampai rumah

Makan malam di Indramayu

Selesai makan, bus kembali masuk ke Tol Trans Jawa. Saya tidak ingat apapun karena memilih melanjutkan mimpi yang terhenti. Setahu saya, bus ini akan keluar tol di Weleri, membelah jalanan rusak di Sukorejo hingga Temanggung, dan meluncur ke Magelang.

Pukul 00:31

"Halo mas, sudah sampai di Secang," baru terbangun, saya langsung alami adrenaline rush. Semua barang segera saya kemas, dan cek ulang bawaan. Terburu-buru, padahal toh supir bakalan nungguin saya turun sih. Tiba di rumah, di hari berikutnya. Dengan mata panda, saya memasuki rumah. Meski jauh dari peradaban dan gemerlap ibukota, tampaknya rumah akan selalu menjadi tempat terbaik untuk kembali.