Menguatkan Eksistensi Magelang dari Segi Perdagangan dan Ekonomi Kreatif

Memanfaatkan keunggulan geografis di dalam segitiga Joglosemar.

Seperti yang umum diketahui, Kota Magelang terletak pada bidang sentris yang strategis untuk pengembangan usaha perdagangan dan ekonomi. Terletak 74 kilometer di selatan Kota Semarang, 48 kilometer di utara kota Jogjakarta, memiliki jalur kereta mati yang akan direaktivasi, dan dapat diakses dari berbagai arah, membuat Kota Magelang begitu sentral dan berpotensi untuk menjadi pusat kekuatan ekonomi baru di Jawa Tengah. Hal ini turut didukung dengan semakin banyaknya investor yang melirik dan menanamkan modalnya di kota kecil ini. Lalu, apa saja yang dapat dilakukan guna memaksimalkan potensi ekonomi dan perdagangan di Kota Magelang?

Program ‘Konservasi Koperasi’

Merupakan program yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing koperasi daerah, tergantung pada jenis koperasi tersebut. Penitikberatan program ini dalam konteks mikro agar upaya pemberdayaan dapat mengakselerasi kemampuan koperasi dalam menyejahterakan anggotanya. Bentuk programnya beragam, tergantung pada jenis, fungsi, status, dan bentuk usaha yang dijalankan oleh koperasi terkait.

Untuk koperasi produsen yang mana menampung aneka hasil kerajinan atau hasil tani (misalnya), pemerintah dapat membantu koperasi terkait dengan memberikan pelatihan pada anggota koperasi supaya mampu mengembangkan lini produksi hingga pada proses pemasaran dan manajemen keuangan. Pengembangan lini produksi termasuk pada meningkatkan brand awareness kepada khalayak publik, cara mengolah hasil tani/kerajinan ke dalam beragam bentuk sesuai dengan tren minat masyarakat terkini, memasarkan hasil produk seluas-luasnya baik melalui toko fisik maupun daring, hingga manajemen keuangan koperasi supaya dapat mengoptimalkan usaha secara berkesinambungan. Koperasi produksi tak hanya menjual hasil tangan anggotanya, terkadang koperasi ini turut memenuhi kebutuhan yang dapat digunakan untuk menunjang kegiatan produksi anggota. Keberadaan pemerintah daerah dapat dengan memberikan bantuan kredit berjangka berbunga rendah untuk pengadaan alat produksi pada nilai tertentu (bantuan non-tunai) hingga memberikan pelatihan untuk pengoperasian alat.

Untuk koperasi konsumen (jasa perdagangan) atau pemilik toko, pemerintah dapat memberikan bantuan kredit berjangka dalam bentuk barang penunjang toko berbunga ringan. Kredit peralatan dan perlengkapan ini bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan koperasi dan memberikan kenyamanan pada pengunjung toko. Pada semester terakhir 2017, ada sekitar 213 koperasi dalam beragam bentuk di seantero Kota Magelang dengan 155 diantaranya adalah koperasi konsumen. Dengan kata lain, rata-rata ada 9 koperasi di setiap kelurahan. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah kota untuk menyokong aktivitas koperasi terutama sarana dan prasarana penunjang aktivitasnya.

Dalam program Konservasi Koperasi untuk koperasi konsumen, akan ada beberapa opsi paket yang dapat diambil oleh koperasi. Misalnya, ada opsi kredit 25, 50, dan 75 juta rupiah. Dari ketiga opsi tersebut, masing-masing koperasi akan mendapatkan bantuan berupa renovasi bangunan supaya terlihat branding dan eye catching, pendekorasian dan pelengkapan fasilitas (seperti AC), CCTV, pembayaran, hingga sistem point of sales (POS). Pada opsi kredit di atasnya, koperasi akan mendapatkan beberapa rak etalase produk, almari pendingin, mesin penyeduh air panas, WiFi, hingga perabot meja-kursi guna menggaet kawula muda untuk nongkrong. Tak cukup disitu, pemerintah kota dapat mengintegrasikan kepemilikan kartu keanggotaan (member card) antar koperasi dan usaha dalam satu kartu besar bernama “Kita SaMa (Satu Magelang)” supaya baik anggota koperasi dapat merasakan manfaat keanggotaan mereka.

Optimalisasi pusat kuliner dengan ‘Kantin Rakyat’ serta festival makanan

Hingga saat ini pemerintah Kota Magelang masih melakukan penataan PKL yang dikumpulkan pada pusat kuliner. Ide ini memang bagus karena selain menata kota, pembentukan pusat kuliner memudahkan para pencari jajanan untuk mencari berburu makanan. Sayangnya, pusat kuliner di Magelang saat ini mengorbankan ruang pejalan kaki — ya, trotoar digunakan sebagai tempat berdagang. Selain itu, tidak adanya tempat parkir memaksa para pengunjung serampangan memarkirkan kendaraan di badan jalan sehingga mengganggu lalu lintas.

GoFood Festival bisa jadi contoh untuk penerapan program ini

Kantin Rakyat adalah upaya pemerintah kota guna membuat pusat kuliner terpadu di tiap kelurahan. Mengapa dinamakan Kantin Rakyat? Karena tempat ini akan mengakomodasi para pelaku UMKM di bidang kuliner (pemilik warung makan sederhana/kecil, pedagang kaki lima, foodstall/food booth) dari kelurahan tempat berdirinya Kantin Rakyat itu sendiri. Harga makanan dan minuman pun diusahakan untuk terjangkau bagi segala kalangan, terstandar, dan tertera dengan jelas. Dengan berkumpulnya para pedagang makanan di satu tempat dalam counter-counter, kondisi ini tentu memudahkan para pengunjung untuk memilih makanan yang beragam di satu tempat serta memberikan kenyamanan dalam keteraturan. Alur distribusi bahan pangan (food chain) pun lebih mudah diatur. Tak hanya itu, di sisi lain Kantin Rakyat dapat membantu memberdayakan para pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha mereka secara legal, di tempat yang telah disediakan, tanpa perlu takut berhadapan dengan polisi pamong praja. Setidaknya hingga kuartal akhir 2017, terdapat 964 pedagang kaki lima (PKL) dalam 20 pusat kuliner yang tercatat di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Magelang.

Pada prakteknya, Kantin Rakyat akan mengadopsi tiga jenis konsep disesuaikan dengan kondisi keruangan di sekitarnya: rest area, foodcourt, atau foodtainment dengan dibuat tema khusus dan sesuai dengan selera generasi sekarang. Akan ada zona parkir (termasuk sepeda dan fasilitas pengecasan kendaraan), halte Trans Magelang, jalur difabel dan jalur khusus drive thru (rest area), pemanfaatan tenaga surya (di atap) untuk sumber listrik, pengadaan WiFi publik dan stop kontak, adanya panggung ekspresi (program Seni & Budaya), dan dump area terpadu untuk transfer limbah ke TPST — termasuk limbah makanan.

Peran pemerintah tidak cukup hanya membangun fasilitas ini, namun juga mengatur beberapa regulasi terhadap pelaku (UMKM) yang ingin berusaha di Kantin Rakyat ini. Regulasi seperti retribusi, harga sewa, standar kualitas makanan, antar konter menyediakan menu yang berbeda, penggunaan wadah atau kemasan, menggaet partner (CSR) guna pembangunan fasilitas sekaligus integrasi dengan portal pembayaran digital, perlu dilakukan supaya usaha-usaha yang tertampung di dalamnya dapat terus tumbuh secara berkelanjutan.

Selain Kantin Rakyat, sebagai kota multikultural Magelang dapat mengembangkan industri foodtainment tematik kuliner Nusantara. Caranya? Dengan cara mengimpor kebudayaan kuliner dari pelbagai daerah di Indonesia. Setiap daerah di Nusantara tentu memiliki keragaman budaya yang berdampak pada keragaman kuliner khasnya pula. Magelang yang terletak begitu sentral dapat mengimpor kebudayaan pangan tersebut dengan cara mendatangkan para pemegang resep yang ada dari masing-masing daerah, mengutip resep, dan membuat kuliner tersebut tersedia di Magelang. Festival kuliner pun dapat menjadi atraksi wisata baru yang digelar setiap bulannya supaya dapat menggaet wisatawan lokal maupun mancanegara untuk datang ke Magelang.

Kebijakan Konservasi Koperasi

Sebagai penunjang program Konservasi Koperasi, pemerintah kota tentu perlu memperkuat program dengan seperangkat kebijakan guna menyukseskan tujuan mengapa program tersebut dibentuk. Beberapa aksi dan kebijakan yang perlu dilakukan untuk menyukseskan program Konservasi Koperasi seperti:

  • Cukup radikal, tidak memperpanjang perizinan toko-toko modern berjejaring dari pemain besar nasional hingga masa operasional berakhir. Hal ini guna mengubah paradigma masyarakat mengenai koperasi atau toko kelontong setempat sekaligus memperkenalkan para pemain lokal,
  • Mengatur harga atas dan bawah untuk komoditas pokok tertentu guna melindungi para pemain dari upaya yang tidak sehat,
  • Mengimitasi sistem pembayaran yang dilakukan oleh peritel besar, termasuk bagaimana bekerjasama dengan gateway portal nasional guna pembayaran pelbagai produk barang maupun jasa (kereta, pesawat, PLN, BPJS),
  • Membuat iklan masyarakat secara massif guna mengampanyekan semangat ‘BBM: Bela-beli Magelang’,
  • Membantu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) guna mendirikan usaha di lapak yang tersedia juga meloloskan produk yang sudah tersertifikasi (MUI, P-IRT, dsb.) untuk masuk ke dalam toko.
  • Meraih peluang kedigdayaan ekonomi dengan merangkul UMKM dan koperasi.

Etalase dalam Portal E-Dagang

Era digital tampaknya telah mentransformasi hampir seluruh cara yang dilakukan manusia, salah satunya belanja. Apabila masyarakat dulu lebih suka berbelanja di toko fisik supaya dapat melihat dan mencoba produk secara langsung, kawula muda justru cenderung memilih berbelanja sambil berselancar di dunia maya. Ada banyak sekali portal dagang di internet, sebut saja Bukalapak, Tokopedia, Bli-bli, dan Lazada. Keempat situs e-dagang ini adalah yang terbesar dan menjajakan beraneka ragam produk yang mudah diakses dalam genggaman. Oleh karena itu, sudah sepatutnya pemerintah kota bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan teknologi tersebut untuk meletakkan produk-produk UMKM se-kota dan kabupaten Magelang di beranda situs. Produk-produk disajikan di beranda dan paling atas situs ketika pengunjung mengakses portal dagang melalui IP yang terdeteksi beralamat di daerah kabupaten dan kota Magelang. Diharapkan dengan etalase khusus ini, produk-produk UMKM Magelang akan lebih cepat terjual.

***

Beberapa ide di atas hanyalah sebagian kecil dari aspirasi dan inovasi yang bisa diterapkan oleh Dinas Perdagangan Kota Magelang guna merangsang perekonomian daerah. Koperasi dan UMKM bisa menjadi pintu awal guna meningkatkan perekonomian daerah sekaligus menunjang daya beli masyarakat. Dengan membuka forum publik, tentu akan ada lebih banyak lagi ide segar untuk dieksekusi.