Pelangi Pertama di Kalimantan

Siang ini kami dijadwalkan sudah berada di desa Tumiang. Tepatnya, sehabis Jumatan. Bapak Camat rupanya masih berkumpul dengan kepala desa Tumiang yang akan menjadi tuan rumah kami, Pak Ardilala. Entah jenis kendaraan seperti apa yang akan membantu kami membawa barang-barang sebanyak ini. Setidaknya kami bisa bersiap untuk solat Jumatan dulu sebelum akhirnya masuk ke pedalaman.

Oiya, di desa tempat kami mengabdi, Muslim adalah minoritas di sini. Sebuah tantangan baru dimana saya harus beradaptasi untuk tetap konsisten beribadah disaat tidak ada lagi kumandang azan. Untungnya, saya sudah memasang aplikasi Muslim Pro Premium, sehingga tiap kali memasuki waktu solat, ponsel saya akan bergetar dan mengumandangkan azan. Tidak ada azan, berarti tidak ada masjid. Dan tidak ada masjid, berarti kami harus mencari masjid terdekat guna melaksanakan solat Jumat. Setidaknya saya, Ifan, Angga, Canting, dan Andre harus menempuh jarak sejauh 3-5 kilometer menuju masjid terdekat, di ibukota kecamatan, tempat saya sekarang sedang mendengar kotbah saat ini.

Meski berada di kawasan mayoritas suku Dayak dan Melayu, masjid kecamatan Samalantan ini tetap menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantarnya. Alhasil, saya masih dapat mencerna konten ceramah tanpa perlu menerjemahkannya terlebih dahulu.

Foto kendid Ifan bersama truk bantuan Pemkab Bengkayang
Solat Jumat selesai. Sebelum kembali ke Wisma Camat, saya sempatkan mampir ke warung setempat. Satu botol minuman dingin di tangan, rupanya harganya tidak terlampau jauh dengan harga di Jawa. Lumayan, saya tidak perlu khawatir lagi dengan stigma Kalimantan serba mahal.

Mengapa pada saat ini saya merasa ritme waktu terasa lebih lambat daripada biasanya. Apabila sehari-hari di kosan waktu antara subuh ke duhur berasa seperti tiga jam saja, di sini waktu yang sama terasa seperti 7-10 jam. Ya, karena saya sempat tidur lelap tiga kali. Menunggu, adalah proses yang paling tidak saya sukai. Selain membuang waktu saya, menunggu juga menghambat kreativitas yang saya miliki. Tak lama berselang, mobil Panther biru berpelat B itu datang. Seperti biasa, bang Rio Kristianto membukakan pintu Pak Camat. Sebagai kaki tangan Pak Camat, ia sangat membantu kami dalam mengurusi barang-barang bawaan.

Sebuah truk tua, bantuan tahun 2001 pun parkir mundur. Truk ini mirip truk yang dipakai Satpol PP dikala bertugas menyisir, tetapi dengan kondisi yang sudah tidak layak tumpang. Hampir 30-40% bodi truk berkarat. Entah medan seperti apa yang bisa membuatnya patah seketika.

Kami bergotong-royong melakukan estafet barang-barang. Kopor-kopor besar disusun terlebih dahulu, kemudian ditindih kopor kecil atau tas. Sudah lengkap, barulah kami menaiki bak truk ini. “Nanti jalannya naik-turun dan berbatu,” ujar bang Rio, semacam peringatan bagi kami untuk menjejakkan kaki di atas koper. 

Rivy, mencoba meneduh diantara tumpukan bagasi
Perjalanan keempat dimulai. Truk melaju dengan kecepatan standar, namun sering berhenti mendadak. Lubang-lubang di jalanan menjadi tantangan tersendiri, truk berulang kali berbelok heroik menghindari kubangan. Dari Samalantan, kami melewati desa tempat sub-unit kedua bertugas, desa Bukit Serayan. Sepertinya desa ini memiliki kondisi yang cukup baik karena terletak di jalan antar kabupaten. Belum lagi, Pak Camat memaparkan kalau sepertiga masyarakat desa Serayan adalah transmigran asal Cilacap, Jawa Tengah. Tentu proses adaptasi akan lebih mudah karena bertemu sesama orang Jawa, “Tapi tiap hari Sabtu adalah hari Nyepi bagi masyarakat Dayak.” Dan pendatang Jawa menghargai ini, alhasil tim KKN unit kedua tidak akan melakukan aktivitas—terutama di luar ruangan, setiap hari Sabtu.

Sepanjang jalan antara Samalantan – Tumiang, pemandangan di kiri kanan jalan hanyalah hamparan sawah, perkebunan sawit, perladangan jagung yang saat ini sedang musim panen, pemandangan bukit dengan hutan tropis di kejauhan, hingga kuburan Nasrani. Ya, banyak kuburan yang dibuat sepanjang jalan ini, linier dan menyebar di kiri-kanan jalan. Unik. Sangat jarang saya temui pemakaman yang cenderung tidak berkelompok pada satu tempat, tidak seperti di sini.

Setengah perjalanan, truk berbelok ke arah selatan. Kali ini jalan adalah kewenangan desa, terjal, curam, berkelok mengikuti kontur perbukitan, dan sedikit berbahaya. Inilah jalan akses ke desa Tumiang. Tidak banyak rumah—terutama warung, kami temui di sepanjang jalan. Sekalinya ada, pola permukimannya linier dan hanya 2-5 unit. Rumah-rumah berdinding kayu beratap seng ini ada yang berbentuk panggung, namun kebanyakan sudah menapak tanah.

Sepuluh-lima belas menit, kami tiba di Kantor Desa Tumiang. Bangunan yang masih berdinding plester ini akan menjadi tempat tinggal saya bersama 4 rekan saya selama 50 hari ke depan. Sedangkan pondokan putri berjarak 300 – 500 meter dari kantor desa ini, bertempat di Puskesmas Pembantu Sokek. “Karena kami belum dapat kunci Puskemas-nya, yang putri silakan tinggal di sini,” ujar pak Kades Ardilala disambut sorak kebahagiaan mahasiswi. Ya, masa untuk makan putra harus berjalan kaki ke pondok yang berjarak setengah kilometer. 

Suasana sore di desa Tumiang
Hujan deras menyambut kedatangan kami. Segar. Awan kabut segera terbentuk, menutupi perbukitan di selatan. Meski deras, ufuk barat tetap merona jingga. Rona itu dibalas dengan barisan pelangi di ujung timur cakrawala. Sungguh indah romansa ini.